Rasulullah Qudwatuna
1.
Risalah
rasul
Kata
Ar-risalah dalam bahasa arab bermakna penyerahan dengan perintah tertentu.
Sedangkan orang yang mengikutinya di perintahkan berita kepadanya atau
dijalakannya apa yang diperintahkan pengutusnya disebut sebagai rasul. Sehingga
rasul lebih popular dengan ucapan sang pembawa risalah. (Al – A’raf :144)
2.
Pentingnya
Beriman Kepada Rasul dalam kehidupan sehari – hari
·
Menambah keimanan
kepada Allah dengan mengetahui bahwa rasul benar-benar manusia pilihan Allah.
·
Mempercayai
tugas yang dibawa oleh Rasul untuk disampaikan kepada umatnya.
·
Lebih menghormati dan
mencintai rasul karena perjuangan nya.
·
Memperoleh suri
teladan yang baik untuk pedoman hidup.
·
Ingin mengamalkan apa yang
disampaikan oleh Rasul Allah. Tugas agung mereka
ialah mengajak manusia beribadah kepada Allah dan meninggalkan sesembahan
selainNya
3.
Tugas para rasul
a.Tugas agung mereka ialah mengajak manusia
beribadah kepada Allah dan meninggalkan sesembahan selainNya.
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada
tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thagut
itu. [An Nahl:36].
b.Menyampaikan syari’at Allah kepada manusia
dan menjelaskan agama yang diturunkan kepada manusia, sebagaimana firman Allah:
يَاأَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَآأُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ
فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللهَ لاَيَهْدِي
الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ Hai Rasul, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dari
Rabb-mu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti)
kamu tidak menyampaikan amanatNya. Allah memelihara kamu dari (gangguan)
manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang
kafir. [Al Maidah:67]
c. Menunjukkan umat kepada kebaikan dan menyampaikan kabar kepada mereka tentang pahala yang disiapkan bagi pelakunya, serta memperingatkan kepada mereka dari kejelekan dan siksaan yang disiapkan untuk yang melanggarnya. Allah berfirman : رُّسُلاً مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللهِ حُجَّةُُ بَعْدَ الرُّسُلِ وَكَانَ اللهُ عَزِيزًا حَكِيمًا (Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [An Nisaa’:165].
d. Memperbaiki manusai dengan teladan dan contoh yang baik dalam perkataan dan perbuatan. Allah berfirman : أُوْلَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ قُل لآأَسْئَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِنْ هُوَ إِلاَّ ذِكْرَى لِلْعَالَمِينَ Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al Qur’an)”. Al Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk segala umat. [Al An’am:90]
c. Menunjukkan umat kepada kebaikan dan menyampaikan kabar kepada mereka tentang pahala yang disiapkan bagi pelakunya, serta memperingatkan kepada mereka dari kejelekan dan siksaan yang disiapkan untuk yang melanggarnya. Allah berfirman : رُّسُلاً مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللهِ حُجَّةُُ بَعْدَ الرُّسُلِ وَكَانَ اللهُ عَزِيزًا حَكِيمًا (Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [An Nisaa’:165].
d. Memperbaiki manusai dengan teladan dan contoh yang baik dalam perkataan dan perbuatan. Allah berfirman : أُوْلَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ قُل لآأَسْئَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِنْ هُوَ إِلاَّ ذِكْرَى لِلْعَالَمِينَ Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al Qur’an)”. Al Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk segala umat. [Al An’am:90]
e. Memperbaiki manusai dengan
teladan dan contoh yang baik dalam perkataan dan perbuatan. Allah berfirman : أُوْلَئِكَ
الَّذِينَ هَدَى اللهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ قُل لآأَسْئَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا
إِنْ هُوَ إِلاَّ ذِكْرَى لِلْعَالَمِينَ Mereka itulah orang-orang yang telah
diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: “Aku
tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al Qur’an)”. Al Qur’an itu
tidak lain hanyalah peringatan untuk segala umat. [Al An’am:90]
f. Menjadi saksi sampainya hujjah kepada manusia. وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا عَلَيْهِم مِّنْ أَنفُسِهِمْ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَى هَآؤُلاَءِ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَىْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ (Dan ingatlah) akan hari (ketika) kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri. [An Nahl:89]
f. Menjadi saksi sampainya hujjah kepada manusia. وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا عَلَيْهِم مِّنْ أَنفُسِهِمْ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَى هَآؤُلاَءِ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَىْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ (Dan ingatlah) akan hari (ketika) kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri. [An Nahl:89]
4. sifat-sifat
Rasulullah
1. Siddiq
Siddiq artinya benar.
Segala perbuatan dan perkataan Nabi dan Rasul adalah benar, Seorang Nabi dan
Rasul mustahil seorang pembohong. Karena setiap perkataan dan perbuatan mereka
senantiasa dijaga oleh Allah SWT. Nabi dan Rasul bersifat benar baik dalam
ucapan maupun tingakah laku perbuatannya. Seperti dalam QS Maryam ayat 41
yang berbunyi :
Artinya: “Dan ceritakanlah
(Muhammad) kisah Ibrahim di dalam kitab (al-Qur’an), sesungguhnya dia adalah
seorang yang sangat membenarkan seorang nabi.” (Q.S. Maryam ayat 41)
2. Al-Amanah
Al-amanah
berarti dapat dipercaya. Nabi dan Rasul merupakan umat yang utusan Allah SWt
yang diberikan amanah untuk menerima dan menyampaikan wahyu Allah. Hal tersebut
terdapat dalam surah Q.S. asy-Syu’ara ayat 106-107 berikut ini:
Artinya:
“Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak
bertakwa? Sesungguhnya aku ini seorang rasul kepercayaan (yang diutus)
kepadamu.” (Q.S. asy-Syu’ara ayat 106- 107)
3. At-Tabligh
At-Tabligh
berarti menyampaikan wahyu kepada umatnya. Rasul selalu menyampaikan wahtu
kepada umat-NYA, tidak satupun ayat yang disembunyikan oelh Rasul kepada
umat-NYA. Disebuah riwayat diceritakan bahwa Ali bin Abi Talib ditanya tentang
apa ada wahyu yang tidak ada atau terdapat dalam al-Qur’an, beliau pun
menegaskan bahwa
“Demi Zat yang membelah biji dan melepas napas, tiada yang disembunyikan kecuali pemahaman seseorang terhadap al-Qur’an.” Penjelasan ini terkait dengan Q.S. al-Maidah ayat 67 berikut ini.
“Demi Zat yang membelah biji dan melepas napas, tiada yang disembunyikan kecuali pemahaman seseorang terhadap al-Qur’an.” Penjelasan ini terkait dengan Q.S. al-Maidah ayat 67 berikut ini.
Artinya:“Wahai
rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika tidak engkau
lakukan (apa yang diperintahkan itu) berarti engkau tidak menyampaikan
amanat-Nya. Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia. Sungguh, Allah
tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.” (Q.S. al-Maidah ayat 67)
4.
Al-Fatanah
Alfatanah
berarti Cerdas.
Islam Way of Life
1. Addin menurut Al-qur’an
·
Jumlah kata Ad-Din
disebutkan sebanyak 92 kali dalam Al-Qur`an yang terdapat dalam 82 ayat. Kata
Al-Millah disebut dalam Al-Qur'an sebanyak 10 kali. Sedangkan penggunaan kedua
kata tersebut dalam al-Qur'an adalah[4]:
·
Kata Ad-Din mempunyai
arti perhitungan (al-hisab), pembangkitan (al-ba`ts), pembalasan
(al-jaza), ketetapan (al-qodho), ganjaran (ats-tsawab),
siksaan (al-iqob), ketika al-Quran membicarakan tentang hari qiyamat .
sebagaimana terdapat dalam surat al-fatihah: 4, al-hijr: 35, an-nur: 25,
asy-syuara: 82, as-shofat: 20, shod: 78, adz-dzariyat: 6, 12, al-waqiah: 56,
al-maarij: 26, al-mudatsir: 46, al-infithor: 9, 15, 17, 18, al-muthofifin: 11,
at-tin: 7 al-maun: 1.
·
Kata Ad-Din mempunyai
makna ibadah, doa, tauhid, ketaatan ketika al-Quran membahas tentang pemurnian
terhadap Allah. Seperti yang terdapat pada surat al-baqoroh: 193, an-nisa: 146,
al-a`raf: 29, al-anfal: 39, yunus: 22, yusuf: 40, an-nahl: 52, al-ankabut: 65,
ar-ruum: 30, luqman: 32, az-zumar: 2, 3, 11, 14, ghofir: 14, 65, al-bayyinah:
5.
·
Kata Ad-Din mempunyai
arti hukum dan ketetapan ketika al-Quran membahas mengenai pengambilan hukum
yang dilakukan olehNya maupun yang dilakukan oleh hambaNya seperti dalam surat
yusuf: 76, an-nur: 2.
·
Kata Ad-Din bermakna
Al-Millah dan syariat ketika ia berada dalam kontek pembahasan penetapan
syariat tuhan terhadap hambaNya. Sebagaimana dalam surat al syura: 13, ar-ruum:
30.
·
Kata Ad-Din berarti
sesuatu yang dianut oleh manusia ketika berada dalam konteks pembahasan
mengenai keyakinan seperti dalam surat al mumtahanah: 8, 9, al-fath: 28,
al-ahzab: 5, ali-imran: 24, an-nisa: 60 al-kafirun: 6.
·
Kata Al-Millah
mempunyai arti sesuatu yang dianut oleh seseorang (Ad-Din) ketika ia berada
dalam konteks pembahasan mengenai keyakinan yang dianut oleh seseorang. Seperti
dalam surat al baqarah: 135, al-an`am: 161, shod: 7.
·
Kata Al-Millah
mempunyai arti syariat ketika ia berada dalam kenteks pembahasan mengenai
penetapan syariat tuhan terhadap hambaNya. Seperti dalam surat ali-imran: 95,
al-haj: 78.
2.
Ciri –ciri Dinullah
·
Dinul
Islam sebagai Agama Fitrah
Fitrah
artinya watak hakiki dan asli dari tiap-tiap manusia. Agama Islam merupakan
agama yang tidak bertentangan dengan watak hakiki setiap manusia karena pada
dasarnya manusia itu diciptakan Allah swt. atas kodrat yang “hanif”, maksudnya
senantiasa memihak kepada kebenaran. ( Ar Rum ayat 30 )
·
Dinul islam sebagai
tauhid
“Dan Kami tidak
mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu, melainkan kami wahyukan kepadanya;
bahwa tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian pada-Ku.
QS. Al Anbiya’: 25
·
Dinul Islam Sebagai
Rahmatan Alam
Dan Kami tidaklah mengutus kamu melainkan
untuk umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai
pemberi peringatan. QS. Saba’ : 28
3. Ciri – ciri dinul ardhi
·
Agama diciptakan oleh
tokoh agama
·
Tidak memiliki kitab
suci
·
Tidak memiliki nabi
sebagai penjelas agama ardhi
·
Berasal dari daerah
dan kepercayaan masyarakat
·
Ajarannya dapat
berubah-ubah sesuai dengan perubahan akal pikiran penganutnya
·
Konsep ketuhanannya
yaitu Panthaisme, dinamisme dan animisme
4.
Pengertian Islam
Secara Etimologi
Islam (bahasa Arab: الإسلام, translit. al-islām,
dengarkan) adalah salah satu agama dari
kelompok agama yang diterima oleh seorang nabi (agama samawi) yang mengajarkan monoteisme tanpa kompromi, iman
terhadap wahyu, iman terhadap akhir zaman, dan tanggung jawab.[1] Bersama para pengikut Yudaisme dan Kekristenan, seluruh muslim–pengikut ajaran
Islam–adalah anak turun Ibrahi
Back to Alqur’an
a. Alquran secra bahasa dan istilah
Dari segi bahasa, Al Qur’an berasal dari bahasa Arab, yakni
bentuk jamak dari kata benda atau masdar dari kata kerja qara’a – yaqra’u – qur’anan yang artinya adalah
“bacaan” atau “sesuatu yang dibaca berulang-ulang”.
Al Qur’an secara
istilah berarti kitab suci umat Islam yang di dalamnya berisi firman-firman
Allah SWT yang diturunkan kepada Rasulullah SAW sebagai mukjizat.
Al Qur’an disampaikan
dengan jalan mutawatir dari Allah SWT dengan perantara malaikat jibril kepada
nabi Muhammad SAW dan membacanya bernilai ibadah.
b.Nama-nama Alquran
1.
Al Quran (Bacaan/Yang Mengumpulkan)
Nama
ini merupakan nama yang paling utama dan digunakan oleh Allah di banyak tempat,
semisal dalam dua ayat berikut (yang artinya):
“Sesungguhnya
Kami telah menurunkan Al Quran kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur.” (QS.
Al Insaan: 23).
“Sesungguhnya
Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu
memahaminya.” (QS. Yusuf: 2).
Terdapat
banyak penjelasan dari para ulama mengenai makna kata Al Quran, di antaranya
adalah apa yang dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Solih Al ‘Utsaimin dalam
karyanya Ushul fi Tafsir. Beliau menjelaskan bahwa Al Quran
merupakan mashdar (kata bentukan) dari kata kerja qoro-a yang
bisa memiliki dua makna, yaitu ism maf’ul dan ism
fa’il. Jika dimaknai sebagai ism maf’ul, maka arti dari Al
Quran adalah sesuatu yang dibaca (bacaan). Namun jika dimaknai sebagai ism
fa’il maka arti dari Al Quran adalah sesuatu yang mengumpulkan
(pengumpul). Al Quran merupakan pengumpul khabar-khabar dan
hukum-hukum Allah.
2.
Al Kitab (Buku)
Nama
Al Kitab Allah gunakan dalam awal surat Al Baqoroh (yang artinya): “Inilah
Al Kitab yang tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” (QS.
Al-Baqarah: 2).
3.
Adz-Dzikr (Pemberi Peringatan)
Allah
menyebut nama Adz Dzikr di antaranya dalam surat Al Hijr (yang artinya): “Sesungguhnya
Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr, dan sesungguhnya Kami benar-benar
memeliharanya” (QS. Al Hijr: 9).
4.
Al-Furqan (Pembeda)
Disebut
sebagai Al Furqon (Pembeda) karena Al Quran membedakan antara kebenaran dan
kebatilan. Allah menyebut nama ini dalam firmanNya (yang artinya): “Maha
suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar
dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS. Al Furqaan:
1).
5.
At-Tanzil (Yang Diturunkan)
Nama
ini Allah gunakan dalam firmanNya (yang artinya): “Dan sesungguhnya Al Quran
ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam” (QS. Asy Syu’ara’:
192).
6.
50 Nama lainnya
Berikut
lima puluh nama lainnya dari Al Quran beserta ayat dimana Allah menggunakan
nama tersebut, yang dikumpulkan oleh Abul Ma’ali Al-Uzaizi bin Abdul Malik
dalam kitabnya Al Burhan:
Al
Mubîn (Yang Menjelaskan; QS. Ad Dukhan: 2), Al Karîm (Yang Mulia; QS. Al
Waqi’ah: 77), Al Kalâm (Perkataan; QS. At Taubah: 6), An Nûr (Cahaya; QS. An
Nisa’: 174), Al Hudâ (Petunjuk; QS. Yunus: 57), Ar Rahmah (Kasih Sayang; QS.
QS. Yunus: 57), Asy Syifâ’ (Obat; QS. Al Isro’: 82), Al Mau’idhah (Nasehat; QS.
Yunus: 57), Al Mubârak (Yang Diberkahi; QS. Al Anbiya’: 50), Al Aliy (Yang
Tinggi; QS. Az Zukhruf: 4), Al Hikmah (Himah; QS. Al Qomar: 5), Al Hakîm
(Hakim; QS. Yunus: 2), Al Muhaimin (QS. Al Maidah: 48), Al Habl (Ikatan; QS.
Ali Imron: 103), Ash Shirâth Mustaqîm (Jalan Yang Lurus; QS. Al An’am: 153), Al
Qayyim (Bimbingan yang Lurus; QS. Al Kahfi: 3), Al Qaul (Perkataan; QS. At
Thoriq: 13), Al Fashl (Yang Merinci; QS. At Thoriq: 13), An Naba’ al Adhîm
(Berita Yang Besar; QS. An Naba’: 2), Ahsanal Hadîts (Perkataan Terbaik; QS. Az
Zumar: 23), Al Matsany (Yang Diulang-ulang; QS. Az Zumar: 23), Al Mutasyâbih
(Yang Sreupa; QS. Az Zumar: 23), Ar Ruh (Ruh; QS. Asy Syuro: 52), Al Wahyu
(Wahyu; QS. Al Anbiya’: 45), Al Araby (Yang Berbahasa Arab; QS. Yusuf: 2), Al
Bashâ’ir (Bukti; QS. Al A’rof: 203), Al Bayân (Penjelasan; QS. Ali Imron: 138),
Al Ilmu (Ilmu; QS. Al Baqoroh: 145), Al Haq (Kebenaran; QS. Ali Imron: 62), Al
Hâdi (Petunjuk; QS. Al Isro’: 9), Al ‘Ajab (Yang Menakjubkan; QS. Al Jin: 1),
At Tadzkiroh (Peringatan; QS. Al Haqqoh: 48), Al Urwatul Wutsqâ (Ikatan Yang
Kuat; QS. Al Baqoroh: 256), Ash Shidq (Kebenaran; QS. Az Zumar: 33), Al Adl
(Keadilan; QS. Al An’am: 115), Al Amr (Perintah; QS. At Tholaq: 5), Al Munâdy
(Yang Menyeru; QS. Ali Imron: 193), Al Busyrâ (Kabar Gembira; QS. Al Baqoroh:
97)), Al Majid (Yang Mulia; QS. Al Buruj: 21), Az Zabûr (Zabur; QS. Al Anbiya’:
105), Al Basyir (Pemberi Kabar Gembira; QS. Al Fushilat: 4), An Nadzîr (Pemberi
Peringatan; QS. Fushilat: 4), Al Azîz (Yang Mulia; QS. Fushilat: 41), Al Balâgh
(Penjelasan; QS. Ibrohim: 52), Al Qashash (Kisah-kisah; QS. Yusuf: 3), Ash Shuhûf
(Lembaran-lembaran; QS. ‘Abasa: 13), Al Mukarramah (Yang Dimuliakan; QS.
‘Abasa: 13), Al Marfû’ah (Yang Ditinggikan; QS. ‘Abasa: 14), Al Muthahharah
(Yang Disucikan; QS. ‘Abasa: 14)
3. Fungsi Alquran
Sumber ilmu pengetahuan (
dalilnya surah al a'raf ayat 52)
Sebagai bahan ilmu sejarah
tentang kisah masa lalu ( dalilnya surah yusuf ayat 111)
Sebagai panduan rujukan ketika
berselisih pendapat ( dalilnya surah an nisa ayat 59)
Sebagai bahan referensi hidup di
muka bumi ( dalilnya surah ar ra'da ayat 3)
Sebagai petunjuk bagi orang
orang yang bertaqwa ( dalilnya surah al baqarah ayat 2)
4.karakteristik alquran
1. Al-Quran adalah
Kitab Ilahi
Al-Quran berasal dari
Allah SWT, baik secara lafal maupun makna. Diwahyukan oleh Allah SWT kepada
Rasul dan Nabi-Nya; Muhammad saw melalui ‘wahyu al-jaliy’ wahyu yang jelas.
Yaitu dengan turunnya malaikat utusan Allah, Jibril a.s untuk menyampaikan
wahyu kepada Rasulullah SAW yang manusia, bukan melalui jalan wahyu yang lain ;
seperti ilham, pemberian inspirasi dalam jiwa, mimpi yang benar atau cara
lainnya.
الر
كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آَيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ
Artinya : Alif
laam raa, (Inilah) suatu Kitab yang ayat-ayatNya disusun dengan rapi serta
dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha
Bijaksana lagi Maha tahu ( Huud 1)
2) Al-Quran
adalah Kitab Suci yang terpelihara
Diantara karakteristik
Al-Quran yang lainnya adalah ia merupakan kitab suci yang terpelihara keasliannya.
Dan Allah SWT sendiri yang menjamin pemeliharaannya, serta tidak membebankan
hal itu pada seorang pun. Tidak seperti yang dilakukan pada kitab-kitab suci
selainnya, yang hanya dipelihara oleh umat yang menerimanya. Hal ini
sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah SWT :
بِمَا
اسْتُحْفِظُوا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ
…. disebabkan mereka
diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah … (Al-Maidah 44)
Adapun makna
dipeliharanya al-Quran adalah Allah SWT memeliharanya dari pemalsuan dan
perubahaan terhadap teks-teksnya, seperti yang terjadi terhadap Taurat, Injil,
dan sebelumnya.
3) Al-Quran
adalah Kitab suci yang menjadi Mukjizat
Diantara karakteristik
Al-Quran adalah kemukjizatannya. Ia adalah mukjizat terbesar yang diberikan
kepada Nabi Muhammad SAW sehingga bangsa arab hanya menyebut-nyebut mukjizat
itu saja, tidak yang lainnya, meskipun dari beliau terjadi mukjizat yang lain
yang tidak terhitung jumlahnya.
4) Al-Quran
adalah Kitab Suci yang menjadi Penjelas dan dimudahkan Pemahamannya
Al-Quran adalah kitab yang
memberi penjelasan dan mudah dipahami. Tidak seperti kitab filsafat, yang
cenderung untuk menggunakan simbol-simbol dan penjelasan yang sulit, tidak pula
seperti kitab sastra yang menggunakan perlambang-perlambang, yang berlebihan
dalam menyembunyikan substansi, sehingga sulit dipahami akal.
Allah SWT menurunkan
Al-Quran agar makna-maknanya dapat ditangkap, hukum-hukumnya dapat dimengerti,
rahasia-rahasianya dapat dipahami, serta ayat-ayatnya dapat ditadabburi. Oleh
karena itu Allah SWT menurunkan Al-Quran dengan jelas dan memberi penjelasan,
tidak samar dan sulit dipahami. Sebagaimana firman Allah SWT :
وَلَقَدْ
يَسَّرْنَا الْقُرْآَنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ
Artinya : Dan
Sesungguhnya Telah kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang
yang mengambil pelajaran? (Al-Qomar 17)
5) Al-Quran
adalah Kitab Suci yang Lengkap
Al-Quran adalah kitab
agama yang menyeluruh, pokok agama dan ruh wujud islam. Darinya disimpulkan
konsep akidah Islam, tatacara ibadah, tuntutan akhlak, juga pokok-pokok
legislasi dan hukum. Allah SWT berfirman :
وَنَزَّلْنَا
عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ
Artinya
: ..dan kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk
menjelaskan segala sesuatu (An-Nahl 89)
6) Al-Quran
adalah Kitab Suci Seluruh Zaman
Makna Al-Quran sebagai
kitab keseluruhan zaman adalah ia merupakan kitab yang abadi, bukan kitab bagi
suatu masa tertentu, yang kemudian habis masa berlakunya. Maksudnya, hukum-hukum
Al-Quran, perintah dan larangannya, tidak berlaku secara temporer dengan suatu
kurun waktu tertentu, kemudian habis masanya.
7) Al-Quran
adalah Kitab suci bagi Seluruh Umat Manusia
Al-Quran bukanlah
kitab yang hanya ditujukan pada suatu bangsa, sementara tidak kepada bangsa
yang lain, tidak juga untuk hanya satu warna kulit manusia, atau suatu wilayah
tertentu. Tidak juga hanya bagi kalangan yang rasional, dan tidak menyentuh
mereka yang emosional dan berdasarkan intuisi.Tidak juga hanya bagi rohaniawan,
sementara tidak menyentuh mereka yang materialis. Al-Quran adalah kitab bagi
seluruh golongan manusia.
Allah SWT berfirman :
إِنْ
هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ
Artinya : Al-Quran itu tiada lain
hanyalah peringatan bagi alam semesta (At-Takwir 27)
Problematika Umat
1. Potensi-potensi
yang di miliki umat islam
Pertama, Potensi
Ideologis, pasca runtuhnya komunisme, musuh ideologis AS adalah Islam. Pada
saat Bush Junior akan menyerbu Afghanistan menyatakan, bahwa perang tersebut
merupakan perang peradaban. Potensi Ideologis inilah yang dipandang sebagai
ancaman oleh negara Kafir Imperialis. Bangkitnya Islam politik di Indonesia
merupakan ancaman terbesar yang mampu merusak intervensi AS, China dan Eropa
untuk terus negeri ini.
Kedua, Potensi
Geopolitis. Kaum muslim secara geografis menempati posisi strategis jalur
laut dunia. Mereka menempati Selat Gibraltar, Terusan Suez, Selat Dardanella,
dan Boshporus yang menghubungkan Laut Hitam ke Mediterania, Selat Hormuz di
Teluk dan Selat Malaka di Asia Tenggara. Dengan menempati posisi strategis ini,
kebutuhan dunia banyak ditentukan oleh umat Islam. Jika kaum muslimin bersatu
terhimpun di bawah naungan Al Khilafah Islamiyah, niscaya mereka menjadi
kekuatan adidaya.
Ketiga, Potensi
Sumber Daya Alam. Seluruh negeri-negeri muslim telah dianugrahi Allah
dengan kekayaan alam yang melimpah : lembah, hutan, rempah-rempah, isi perut
bumi yang kaya akan tambang, minyak, dan gas bumi. Laut yang memiliki aneka
ragam potensi yang ada di permukaannya, di dasarnya, maupun di perut buminya.
Potensi SDA ini, dipandang sebagai bahaya yang dapat mengalahkan negara-negara
besar di satu sisi; sementara di sisi lain merupakan lahan bagi negara-negara
kafir imperialis untuk memperkaya diri mereka.
Keempat, Potensi
Demografi. Memang, jumlah penduduk bukalah faktor penentu kekuatan suatu
negara. Namun, bila umat Islam di seluruh dunia bersatu di bawah payung
Khilafah Islamiyah; tentu ini merupakan kekuatan luar biasa. Realitas
menunjukkan, bahwa Indonesia sebagi negeri muslim dengan penduduk muslim paling
besar di antara negari-negari muslim lainnya.
Kelima, Potensi
Militer. Secara kuantitas jumlah tentara di Dunia Islam sangat besar. Bila
terekrut 1% saja dari penduduknya yang 1,6 Milyar, akan didapat 16 juta
tentara. Di Indonesia, bila 1% penduduknya terekrut menjadi tentara, akan ada
2,5 juta tentara. Karena itu dapat dibayangkan betapa kuatnya jika mobilisasi
pasukan militer ini dilakukan oleh sebuah negeri muslim, apalagi negara yang
bersifat internasional
2. Sebab
sebab kemunduran umat islam
Sebab pertama kenapa ummat Islam mundur adalah karena
ummat Islam sudah tidak mempraktekkan ajaran Islam yang termuat dalam Al Qur’an
dan Hadits. Padahal itu adalah pedoman kita agar hidup bahagia dunia dan
akhirat.
Nabi SAW bersabda: “Aku tinggalkan bagimu dua
perkara, jika kamu berpegang teguh kepada keduanya kamu tidak akan tersesat
selama-lamanya yaitu kitab Allah dan Sunnah Rasul(hadits)”. Ditambah lagi
Qur’an sendiri menyatakan dalam surat Al-Furqon ayat 30. Berkatalah Rasul: “Ya
Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an itu sesuatu yang tidak
diacuhkan”. Menyoroti masalah ini Ibnu Taimiyyah mengatakan: “Barang siapa yang
tidak membaca Qur’an maka dia telah menjauhi Qur’an, dan barang siapa yang
membaca tapi tidak pernah merenungkan isinya maka dia telah menjauhi Qur’an,
dan barang siapa yang membaca lalu merenungkan isinya tapi tidak pernah
mengamalkan nya maka dia telah menjauhi qur’an pula”. Tapi hal iniditujukan
kepada orang yang berbeda kemampuan pemahamannya terhadap Qur”an.
Dalam Islam begitu banyak ajaran yang jika
dilaksanakan akan bermanfaat bagi ummat Islam sendiri. Sebagai contoh, Nabi
berkata bahwa menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap Muslim lelaki dan
perempuan [Ibnu Majah). Artinya jika kita mempelajari ilmu yang bermanfaat kita
akan mendapat pahala, sedang jika tidak belajar kita akan berdosa. Namun
kenyataannya banyak ummat Islam yang malas belajar. Bahkan ada yang beranggapan
wanita tidak perlu sekolah tinggi-tinggi toh akhirnya juga tinggal di dapur.
Akibatnya ummat Islam jadi bodoh dan terbelakang.
Sebaiknya ummat Non Muslim begitu rajin
belajar. Tidak hanya S1, tapi juga S2, bahkan S3 dan banyak juga yang tetap
belajar meski tidak melalui pendidikan formal seperti Bill Gates yang meski
tidak lulus kuliah tapi tetap terus belajar sehingga bisa membuat sistem
operasi komputer yang dipakai luas di seluruh dunia.
Ummat Non Muslim begitu cerdas hingga mereka
bisa membuat pesawat terbang, kapal induk, peluru kendali, mobil, komputer, dan
sebagainya, sementara ummat Islam karena bodoh nyaris tidak bisa apa-apa.
Nabi juga berkata: ”Kebersihan sebagian dari
iman.” Namun ternyata ummat Islam banyak yang hidup jorok. Bahkan banyak
pesantren yang merupakan tempat kaderisasi ulama yang begitu kotor tempat
wudlu, kamar mandi, apalagi WC-nya. Saya sempat melihat air yang begitu kotor
dan hijau dipakai untuk berwudlu di pesantren.
Sebaliknya, ummat Non Muslim hidup begitu
bersih. Untuk kamar kecil saja, airnya begitu bersih dan jernih. Bahkan mereka
bisa mencari nafkah dengan menjadikan kebersihan sebagai usaha/bisnis mereka.
Sebagai contoh perusahaan Swedia, Electrolux, memproduksi berbagai produk
kebersihan seperti Vacuum Cleaner, alat pel listrik, dan sebagainya. Unilever
merupakan perusahaan Multinasional yang kaya dengan produk kebersihan seperti
sabun mandi, shampo (pembersih rambut), dan juga sabun cuci. Mereka jadi bersih
dan makmur dengan menjalankan kebersihan yang sebenarnya merupakan ajaran
Islam.
Sebab kedua adalah ummat Islam tidak bersatu, tapi
berpecah-belah. Padahal ummat Islam diperintahkan untuk bersatu. Allah sudah
mengingatkan kepada kita . QS. Ali Imran : 103. Dan berpeganglah kamu semuanya
kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan
ni'mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan,
maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni'mat Allah,
orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu
Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya
kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.
Nabi Muhammad SAW bersabda: "Akan
terpecah belah umatku seperti terpecah-belahnya Yahudi dan Nasrani menjadi 73
golongan, semuanya masuk neraka kecuali kaum yang mengikuti ajaran-ajaranku dan
sahabat-sahabatku".
Pada zaman Nabi, ummat Islam juga berusaha
untuk dipecah-belah dan diadu-domba baik oleh orang kafir Mekkah, mau pun kaum
Yahudi misalnya dengan berusaha menimbulkan fanatisme suku antara kelompok
Muhajirin dan Anshar. Tapi Nabi berhasil mendamaikan dan mempersatukan mereka.
Seharusnya para ulama yang merupakan pewaris Nabi harus berusaha mempersatukan
ummat Islam yang terpecah-belah baik dalam kelompok bangsa/negara mau pun
aliran.
Bahkan ummat Islam juga disusupi oleh kaum
munafik yang dipimpin Abdullah bin Ubay bin Salul untuk memecah-belah ummat
Islam dari dalam. Kaum munafik ini bahkan membangun masjid guna memecah-belah
ummat Islam. ”Di antara orang-orang munafik itu ada yang mendirikan masjid
untuk menimbulkan kemudharatan pada orang-orang mukmin, untuk kekafiran dan
untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan
orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka
Sesungguhnya bersumpah: "Kami tidak menghendaki selain kebaikan." Dan
Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta.
Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu
selama-lamanya. Sesungguh- nya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid
Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di
dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan
sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih. [At Taubah:107-108]
Ummat Islam bukan hanya tidak sholat di masjid
itu (Masjid Dliror), bahkan membakarnya sehingga orang-orang munafik tidak bisa
memecah-belah ummat Islam. ”Maka mengapa kamu terpecah menjadi dua golongan
dalam menghadapi orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka
kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri? Apakah kamu bermaksud
memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah? Barangsiapa
yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan untuk memberi
petunjuk kepadanya.
Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir seperti
mereka. Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolongmu,
hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Jika mereka berpaling, tawan dan
bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil
seorangpun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan pula menjadi
penolong” [An Nisaa’:88-89]
Surat Al Baqoroh ayat 1-20 menjelaskan Muslim
yang lurus, orang yang kafir, dan orang yang munafik. Ini agar ummat Islam bisa
bersatu dengan Muslim yang lurus dan terhindar dari pecah-belah / adu domba
kaum kafir dan munafik. Dengan persatuan, ummat Islam tidak terkalahkan. Tidak
hanya kaum kafir Quraisy yang gagal mengalahkan ummat Islam, tapi juga kaum
Yahudi, Persia, dan Romawi. Mereka akhirnya takluk di tangan pejuang Islam.
Negara-negara Barat maju karena mereka bersatu. Di bawah kepemimpinan Amerika
Serikat dan kelompoknya yang disebut NATO, mereka bersatu menyerang ummat Islam
di Afghanistan, Iraq, dan juga memberikan dukungan penuh pada Israel yang
menjajah Palestina dan menguasai masjid Al Aqsha.
Presiden AS, George W Bush mengatakan: ”Either
with us or against us!”. Berjuang bersama kami. Jika tidak berarti melawan
kami!” Jika tidak turut berjuang bersama George W Bush, berarti jadi musuh Bush
cs. Ummat Islam dulu juga begitu. Ketika bin Malik, Hilal bin Umayyah dan
Mararah bin Rabi’ tidak ikut berperang, mereka dikucilkan sehingga merasa
berdosa : ”dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat)
mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu
luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka
telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan
kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam
taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha
Penyayang.” [At Taubah:118]
Ummat Islam gagal membebaskan masjid Al Aqsha
karena politik adu domba dan pecah belah yang dilancarkan oleh AS dan
sekutunya. Jika ummat Islam bersatu, tidak mungkin orang-orang kafir mampu
memerangi ummat Islam dan menang : ”Mereka tidak akan memerangi kamu dalam
keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di
balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira
mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena
sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti.” [Al Hasyr:14]
Sering ummat Islam ribut dan bertengkar karena
masalah furu’iyah/cabang sehingga akhirnya terpecah-belah dan mudah ditaklukkan
musuh. Sebab Ketiga adalah ummat Islam Cinta Dunia dan Takut Mati. Nabi
Muhammad SAW berkata: ”Kamu akan diperebutkan oleh bangsa-bangsa lain
sebagaimana orang-orang yang berebut melahap isi mangkok makanan. Para sahabat
bertanya, “Apakah saat itu jumlah kami sedikit, ya Rasulullah?” Beliau
menjawab, “Tidak, bahkan saat itu jumlah kalian banyak sekali tetapi seperti
buih air bah (tidak berguna) dan kalian ditimpa penyakit wahan.” Mereka
bertanya lagi, “Apa itu penyakit wahan, ya Rasulullah?” Beliau menjawab,
“Kecintaan yang sangat kepada dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud)
Sebab Ketiga saat ini mayoritas ummat Islam terlalu cinta dunia dan
takut mati. Kebanyakan ummat Islam boleh dikata alergi terhadap perang. Apalagi
ada beberapa boneka kelompok Barat yang berusaha melenyapkan ajaran jihad
dengan perang dan menggantinya dengan ajaran Damai dan Cinta meski pada saat
ini ummat Islam diserang dan dibunuh di Afghanistan, Iraq, dan Palestina.
Ajaran Jihad pun berusaha untuk dipersempit sehingga perang tidak termasuk di
situ. Allah mewajibkan ummat Islam untuk berperang membela diri dan orang-orang
yang dizalimi : ”Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan membela
orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya
berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim
penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami
penolong dari sisi Engkau!.” [An Nisaa’:75]
”Dan perangilah di jalan Allah orang-orang
yang memerangi kamu” [Al Baqoroh:190]
”Diwajibkan atas kamu berperang, padahal
berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu,
padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu,
padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
[Al Baqarah:216]
Dalam Islam kita diperintahkan untuk selalu
dalam keadaan siap untuk berperang, sehingga ketika musuh menyerang, kita tidak
terbantai dan terjajah : ”Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa
saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang
dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang
orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya sedang Allah mengetahuinya.
Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan
cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” [Al Anfaal:60]
Negara-negara Barat paham mengenai hal ini.
Mereka punya semboyan: ”Si Vis Pacem Para Bellum”. Agar bisa damai, kita harus
menyiapkan perang. Artinya jika kita kuat dan siap perang, maka musuh tidak
berani menyerang dan memerangi kita sehingga kita bisa hidup damai.
Negara-negara Barat maju karena banyak melakukan peperangan. Dari Eropa, mereka
berperang menyerang penduduk-penduduk di benua Asia, Afrika, Australia, dan
Amerika. Akibatnya saat ini Kanada, Amerika Serikat, Australia, serta
negara-negara Amerika Latin seperti Meksiko dan Brazil boleh dikata mayoritas
penduduknya dan pemimpinnya berasal dari Eropa.
Negara-negara Barat juga melakukan peperangan
baik dalam perang Dunia I, Perang Dunia II, Perang Korea, Perang Vietnam,
Perang Afghanistan, Perang Iraq, dan sebagainya. Puluhan juta tentara mereka
mati karenanya. Tapi musuh yang mereka bunuh (di antaranya ummat Islam) lebih banyak
lagi dan mereka berhasil menguasai sumber daya dan kekayaan negara lain
sehingga bisa maju dan kaya. Seharusnya ummat Islam harus berani berperang
untuk membela diri. Para ulama dan pemuda Islam yang sadar juga harus semangat
untuk berperang membela orang-orang yang dijajah : ”Hai Nabi, kobarkanlah
semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar
diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan
jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat
mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum
yang tidak mengerti” [Al Anfaal:65]
Saat ini kebanyakan ummat Islam takut untuk
mati di dalam peperangan. Sebaliknya mati ketika tawuran sekolah, tawuran antar
warga, perang Supporter bola, atau mati terinjak dalam konser jadi hal yang
biasa ketimbang mati syahid di dalam peperangan.
Sebab Keempat mundurnya ummat Islam adalah hilangnya
semangat Jihad. Jihad adalah satu kesungguhan untuk berjuang di jalan Allah. Ada
hadits dloif yang berusaha memperkecil makna Jihad sebagai hanya perang melawan
hawa nafsu dan bukan berperang. Padahal jihad adalah perjuangan yang
sungguh-sungguh sehingga bukan hanya harta saja yang dikorbankan, tapi juga
nyawa. Ayat di bawah menjelaskan orang yang berjihad dengan harta dan nyawa
jauh lebih tinggi derajadnya ketimbang orang yang tidak ikut berperang :
”Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak
mempunyai ‘uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta
mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan
jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka
Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang
berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar” [An Nisaa’:95]
Ummat Islam ketika perang dulu tidak takut
mati. Justru mereka berperang dengan sengit agar bisa mati syahid dan
mendapatkan surga : ”Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin
diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang
pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji
yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang
lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual
beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” [At
Taubah:111]
Orang-orang kafir heran, ummat Islam bukannya
berusaha menghindari mati, tapi justru berusaha mati di dalam peperangan.
Sehingga mereka begitu fokus menyerang musuh dan sulit untuk dikalahkan. Dalam
Perang Mu’tah, 3.000 pasukan Muslim dengan sabar melawan 200.000 pasukan
Romawi. Mereka tidak mundur ketakutan. Justru pasukan Romawi yang mundur
ketakutan karena strategi Panglima Muslim, Khalid bin Walid. Ketika ada yang
mengusulkan untuk minta bantuan pasukan kepada Nabi, Abdullah bin Rawahah
(salah satu syuhada) berkata: ”Demi Allah apa yang tidak kalian sukai
sebenarnya justru yang kita cari, yaitu mati syahid. Kita tidak berperang
karena jumlah, kekuatan, dan banyaknya personil. Kita perang karena Islam yang
dengannya Allah memuliakan kita. Maka berangkatlah karena di sana hanya ada 2
kebaikan: Menang atau Mati Syahid!” (Siroh Nabawiyah, Syaikh Shafiyyurrahman al
Mubarakfury).
Zaid bin Harits, Ja’far bin Abu Thalib,
Abdullah bin Rawahah mati syahid. Total hanya 12 pasukan Muslim yang mati
syahid. Sementara jumlah tentara Romawi yang gugur lebih banyak lagi. Ibnu
’Umar yang melihat jasad Ja’far mengatakan bahwa ada 70 luka karena tikaman dan
sabetan di tubuh Ja’far. Semua di tubuh bagian depan. Itulah kehebatan semangat
Jihad yang dimiliki ummat Islam. Meski kalah jumlah dan menghadapi Superpower
dunia saat itu, mereka tidak gentar dan menang.
Sesungguhnya Jihad adalah semangat yang
membuat ummat Islam menjadi kuat dan sulit untuk dizalimi, dijajah, atau
dikalahkan. Orang-orang kafir membenci ini dan berusaha menghapusnya dengan
memasukkan berbagai ajaran/paham sehingga ummat Islam jauh dari jihad. Misalnya
dengan tasawuf, ummat Islam diasyikkan dengan ”mujahadah” sehingga lebih asyik
menyepi dan ”berzikir” ketimbang berjihad. Padahal jihad adalah satu kewajiban
: ”Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya..”
[Al Hajj:78]
Jihad adalah pintu atau syarat untuk masuk
surge : ”Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata
bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang
yang sabar.” [Ali ’Imran:142]
”Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang
kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan jihad yang
besar.” [Al Furqon:52]
Hanya orang yang munafik/tidak beriman yang
tidak mau berperang dan berjihad : ”Orang-orang yang beriman kepada Allah dan
hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk tidak ikut berjihad
dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa.”
[At Taubah:44]
”Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut
perang) merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka
tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka
berkata: “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.”
Katakanlah: “Api neraka jahannam itu lebih sangat panasnya” jika mereka
mengetahui.” [At Taubah:81]
Sebab Kelima kemunduran Ummat Islam adalah karena tidak mandiri di
bidang ekonomi. Saat ini secara ekonomi ummat Islam dikuasai oleh orang-orang
kafir. Ummat Islam bukan sebagai produsen atau penghasil. Tapi hanya sebagai
pembeli/pemakai. Jika orang-orang kafir mengembargo, maka ummat Islam akan
kesulitan.
Sumber daya dan kekayaan alam negara-negara
Islam saat ini dikuasai oleh orang-orang kafir. Minyak, gas, emas, tembaga,
perak, boleh dikata dikelola oleh Multi National Company (MNC) dari
negara-negara Barat yang perekonomiannya didominasi Yahudi bekerjasama dengan
segelintir pemimpin Muslim yang korup.
Ummat Islam hanya mendapat persentase yang
amat kecil. Akibatnya ummat Islam jadi miskin, sementara orang-orang kafir
bertambah kaya. Ummat Islam sering kesulitan dana untuk membangun masjid,
sekolah-sekolah Islam dan tidak mampu menyantuni fakir miskin dan anak Yatim.
Banyak anak-anak miskin yang berkeliaran di jalan mencari makan. Nabi Muhammad
bukan hanya mengadakan boikot terhadap produk asing. Tapi bahkan melarang
orang-orang kafir masuk ke kota Mekkah. Padahal saat itu perekonomian masih
dikuasai oleh orang-orang kafir. Ketika sebagian orang Islam ada yang khawatir
nanti bisa susah/miskin, Allah menghibur mereka : ”Hai orang-orang yang
beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka
mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi
miskin, maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika
Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” [At
Taubah:28]
Justru dengan melarang orang-orang kafir
masuk, ummat Islam malah mandiri di bidang ekonomi dan menjadi lebih makmur. Sebagai
contoh, jika minyak, gas, emas, tembaga, perak, dan sebagainya dikelola oleh
ummat Islam sendiri, maka semua keuntungan masuk ke tangan ummat Islam. Bukan
recehan kecil yang hanya nol sekian persen yang diberikan oleh orang-orang
kafir tersebut. Dengan begitu ummat Islam bisa makmur dan kuat. Kemiskinan bisa
dikurangi.
Sebab Keenam kemunduran ummat Islam adalah ummat Islam tidak bisa
menentukan prioritas (Tertib/urutan kepentingan) bersama yang harus dikerjakan
bersama. Sering ummat Islam mengerjakan hal-hal yang tidak penting dan tidak
segera ketimbang hal yang sangat penting dan mendesak. Padahal berbagai ajaran
Islam seperti sholat, haji, wudlu, dan sebagainya merupakan pendidikan tentang
mengerjakan sesuatu menurut urutan yang benar/tertib. Ummat Islam harus bisa
menentukan mana pekerjaan yang harus diselesaikan lebih dulu, dan mana yang
bisa dikerjakan kemudian. Ummat Islam juga sering gagal menentukan musuh mana
dulu yang harus dilawan sekarang dan yang mana bisa dilakukan kemudian. Sering
ummat Islam perang sesama mereka sementara lawan yang harus diserang seperti
Israel yang menjajah Palestina atau AS yang menjajah Iraq dan Afghanistan
justru aman dari mulut dan tangan ummat Islam.
Sebagai contoh kita menyaksikan perang Iraq
melawan Iran yang menewaskan 2 juta ummat Islam, kemudian Iraq melawan Kuwait
dan Saudi yang juga menewaskan banyak korban. Di saat yang sama negara-negara
yang berperang dan mengorbankan nyawa jutaan rakyatnya ini tidak ada satu pun
yang menyerang Israel untuk membebaskan Masjidil Aqsha. Nabi Muhammad dan para
sahabat tidak pernah ribut apalagi perang dengan sesama. Bahkan ketika kelompok
munafik Abdullah bin Ubay memecah-belah ummat Islam sehingga dari 1.000 pasukan
Muslim, 300 membelot ke Abdullah bin Ubay, Nabi tidak memeranginya. Kata Nabi,
jika aku membunuhnya, nanti orang akan berkata bahwa ummat Islam saling bunuh.
Nabi juga menandatangani perjanjian damai dan kerjasama pertahanan dengan
orang-orang Yahudi untuk menghadapi serangan kaum kafir Mekkah. Ketika kaum
Yahudi berkhianat, baru Nabi memerangi mereka. Jadi Nabi Muhammad SAW bertindak
cerdas untuk menentukan lawan yang harus diserang dan mana yang diajak
bekerjasama. Bukan memerangi seluruh dunia.
Sebab Ketujuh mundurnya ummat Islam adalah ummat Islam
gagal menemukan hal yang bermanfaat. Dari Abu Hurairah ra, dia berkata:
“Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Sebagian tanda dari
baiknya keislaman seseorang ialah ia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna
baginya.” (Hadits hasan, diriwayatkan Tirmidzi dan lainnya) ”Gemarlah kepada
hal-hal yang berguna bagimu” [Muslim]
Negara Barat maju karena banyak menemukan dan
membuat hal yang berguna baik untuk orang lain mau pun diri mereka sendiri.
Mereka membuat mobil dan kapal terbang sehingga orang bisa bepergian dengan
cepat dan nyaman. Mereka membuat handphone dan telepon sehingga orang bisa
berbicara dengan saudara dan temannya meski terpisah jauh sekali. Mereka
membuat berbagai peralatan yang bermanfaat bagi kita semua seperti vacuum
cleaner dan sebagainya. Dengan menggemari hal yang bermanfaat, mereka
memberikan manfaat bagi orang lain dan diri mereka sendiri.
Sebab kedelapan adalah ummat Islam tidak menguasai media
massa. Akibatnya ketika Islam dicitrakan sebagai teroris dan hukum Islam
dilecehkan, ummat Islam tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan tidak jarang ummat
Islam diadu-domba dengan berbagai pemberitaan di media massa. Memang ummat
Islam punya media cetak dan radio meski pembacanya tidak sebanyak media yang
dimiliki oleh kelompok non Muslim dan sekuler. Contohnya di Indonesia oplah
majalah Islam hanya 100 ribu atau kurang dengan pembaca kurang dari 500 ribu
orang. Kurang dari 0,3% dari total penduduk Indonesia. Bahkan untuk TV Nasional
yang dapat menjangkau 200 juta penduduk Indonesia, tidak ada TV yang dimiliki
oleh ummat Islam. Semuanya dimiliki kelompok Non Muslim atau sekuler. Bahkan 2
di antara TV Nasional di Indonesia dikuasai oleh Konglomerat Media Yahudi:
Rupert Murdoch.
Di dunia boleh dikata media massa dikuasai
oleh Non Muslim. Media massa terkemuka seperti TV CNN, majalah Time, New York
Time dikuasai oleh mereka. Begitu pula dengan Hollywood yang film-filmnya
ditonton jutaan orang. Tak jarang di film tersebut selain dipropagandakan gaya
hidup sex bebas juga ummat Islam digambarkan sebagai teroris. Padahal media
massa sangat penting untuk menyampaikan berita. Mukjizat terbesar Nabi Muhammad
adalah Al Qur’an yang artinya ”Bacaan” atau informasi. Salah satu tugas utama
Nabi adalah menyampaikan berita: ”Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang
mukmin bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah.” [Al
Ahzab:47]
”Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad)
dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan” [Al
Baqarah:119]
”Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai
saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan” [Al Fath:8]
3. Solusi dari
problematika umat islam
- Istiqamah
dan sabar
Secara singkat Solusi
yang ditawarkan adalah yang mampu menjamin shalah dan ishlah; yang fardhu ‘ain
dan fardhu kifayah; yaitu keselamatan pribadi dan perbaikan sosial, bangsa dan
negara. Seorang pribadi muslim akan bisa menjadi shalih dan selamat meskipun
masyarakat dan Negara carut marut, mana kala ia beriman dengan benar, beribadah
dengan benar dan melakoni kehidupan dengan akhlak mulia, serta menghindari
segala fitnah.
- Islamisasi
Pengetahuan
Islamisasi pengetahuan
yang kita maksud adalah penguasaan sains dan ternologi sesuai dengan tuntunan
islam serta keberpihakan atau loyalitas ilmuwan muslim kepada agamanya dan
negaranya, serta kepedulian Negara khususnya kepada pengetahuan dan ilmuwan.
Hal ini mengingat, ilmu pengetahuan seolah menjadi senjata yang sangat ampuh
untuk menaklukkan alam semesta.
- Kemandirian
ekonomi negara Muslim
Kemandirian ekonomi
negara Muslim adalah hal yang seharusnya dijadikan hal penting. Meski saat ini
kondisi perekonomian hampir di semua negara Muslim dalam kondisi
memprihatinkan, namun basis-basis bagi kemandirian itu harus ditanamkan dengan
kokoh. Selain iptek yang tak kalah penting adalah pertanian mengarah pada
swasembada, kemudian usaha-usaha bagi pemenuhan kebutuhan primer masyarakat.
Selain itu pembangunan yang butuh banyak dana dapat dilakukan dengan
kebersamaan sesama negara Muslim.
- Membentuk
jaringan dan kerjasama antar gerakan dan elemen organisasi islam.
Lembaga, pusat studi
dan kajian serta ormas islam harus memiliki jaringan yang kuat dan luas
sehingga informasi dan ukhuwah dapat senantiasa terbina. Dari sana kemudian
gagasan kemajuan islam dapat disintesiskan dan kerja serta gerakan dapat
disinergiskan sehingga dakwah bisa lebih optimal.
- Konsentrasi
memperbaiki pendidikan juga menghapus sekulerisasi dari akar-akarnya.
Islamisasi ilmu juga harus pula dibarengi dengan upaya memperbaiki
sistem pendidikan. Semua tokoh pembaharu dan penyokong gagasan islamisasi
sains sepakat bahwa perbaikan sistem pendidikan adalah hal yang urgen bagi
terbentuknya peradaban islam. Bagaimanapun sistem pendidikan masih
didominasi oleh pemikiran sekula Oleh karena itu perlu usaha keras untuk
melakukan perbaikan
- Menghapuskan
perselisihan panjang antar negara Muslim dengan Ukhuwah Islamiyah.
Egoisme, nasionalisme
sempit kesukuan, harus diganti dengan semangat persatuan umat islam. Yang harus
dibangun adalah kesadaran bahwa umat islam saat ini tengah dalam kondisi
terpuruk, oleh karenanya umat islam harus berupaya menegakkan kembali izzah
islam dan hal itu membutuhkan banyak energi, oleh karenanya sangat dibutuhkan
persatuan dan persaudaraan dikalangan umat islam sehingga dapat dibentuk
sinergi.
Tarbiyah Islamiyah
1. Makna
dan hakikat pendidikan islam
1. Pendidikan bersifat humanis – teosentris
Pendidikan bersifat humanis teosentris artinya bahwa pendidikan
dan segala seuatu yang diajarkan kepada manusia adalah berdasarkan fitrah atau
kodrat manusia sebagai makhluk dan tentunya dilandasi oleh segala syariat dan
ketentuan Tuhan atau Allah SWT. Hakikat pendidikan yang bersifat humanis
teosentris pada dasarnya menitik beratkan hubungan manusia dengan Tuhannya atau
Allah SWT dan menjabarkan iman dan taqwa itu sendiri. Dengan kata lain, hakikat
pendidikan islam adalah penghubung Allah SWT dengan makhluknya terutama manusia
melalui keimanan.
2. Pendidikan bernilai ibadah
Salah satu tugas dan peran pendidikan islam adalah menuntun dan
mengajarkan umat manusia dalam menjalankan ibadah dan tugasnya sebagai khalifah
di muka bumi. Pendidikan islam mengajarkan kepada manusia bagaimana cara
menjalankan ibadah seperti shalat baik shalat wajib maupun shalat sunnah, puasa, zakat, haji dan lain sebagainya. Dilihat dari hakikat
pendidikan ini, maka Allah SWT bertindak sebagai pendidik yang kekal dan
hakiki. Tanpa adanya pendidikan islam maka manusia dapat kehilangan arah dan ia
akan tersesat tatkala mencari makna dari hidupnya.
3. Pendidikan menanamkan tanggung jawab
Hakikat pendidikan islam yang lainnya adalah menanamkan rasa
tanggungjawab kepada seluruh umat manusia dan mengajarkan manusia bagaimana
cara memenuhi tanggung jawab serta kewajiban yang dimilikinya. Pendidikan yang
dimiliki selayaknya membuat umat manusia mengerti tentang tugasnya dan
kewajibabnya serta menyadari pentingnya meneruskan pendidikan islam itu
sendiri.
3. Pendidikan seumur hidup
Hukum
menuntut ilmu adalah wajib atau
fardlu ain baik bagi pria maupun wanita. Seorang muslim hendaknya tidak
berhenti menuntut ilmu dan mendalami pendidikan islam karena pada hakikatnya
pendidikan islam adalah dasar hidup seseorang semasa ia hidup di dunia dan
berlaku seumur hidup. Dengan katalain seorang manusia wajib belajar dan
menuntut ilmu sejak ia dilahirkan ke dunia hingga menjelang ajalnya.
4. Pendidikan tidak terbatas ruang dan waktu
Pendidikan islam diajarkan kepada umat manusia dan tidak terbatas
ruang dan waktu. Pendidikan islam tidak terbatas ruang maksudnya bahwa
pendidikan islam tidak hanya diajarkan pada manusia di suatu daerah saja
seperti halnya seorang nabi mengajarkan ilmu pada suatu kaum, pendidikan islam
bersifat luas dan mencakup seluruh umat manusia yang hidup di dunia. Pendidikan
islam juga tidak terbatas waktu karena pendidikan islam harus tetap diajarkan
dan diteruskan oleh setiap generasi manusia yang hidup dalam kurun waktu yang
berbeda. (baca cara
mendidik anak dalam islam dan pendidikan
anak dalam islam)
5. Pendidikan kemaslahatan umat
Pendidikan islam juga memiliki hakikat yang penting dalam
masyarakat. Dalam Alqur’an dijelaskan bahwa Allah SWT tidak menciptakan manusia
untuk hidup sendiri melainkan untuk bersosialisasi dengan sesamanya atau
bermasyarakat. Pendidikan islam tidak hanya mengajarkan umat manusia untuk
beribadah dan menyembah Allah SWT saja akan tetapi juga mengajarkan bagaimana
berperilaku dengan akhlak yang mulia dan menjaga kerukunan serta perlakuan
kepada manusia lainnya (baca keutamaan
menyambung tali silaturahmi).
Ilmu dalam pendidikan islam selayaknya menjadi pedoman bagi manusia untuk
mewujudkan hidup yang lebih baik bagi dunia maupun kehidupan akhirat
2. Sebab – sebab pentingnya pendidikan islam
Umat Islam secara normatif meyakini bahwa pendidikan sangat
penting bagi manusia, tanpa membedakan antara laki-laki dan perempuan.
Ditemukan sejumlah ayat dan hadis menjelaskan betapa tingginya posisi
orang-orang yang menekuni pendidikan dan bidang keilmuan. Sayangnya, konsen ini
baru pada tataran normatif, belum banyak terwujud dalam aksi nyata.
Umumnya ahli pendidikan Islam sepakat bahwa tujuan utama
pendidikan Islam adalah membentuk kepribadian Muslim sehingga terwujud manusia
yang bermoral atau berakhlak mulia. Pendidikan harus mampu mewujudkan cita-cita
Islam yang mencakup pengembangan potensi rohani dan jasmani manusia sehingga
membentuk manusia beriman dan berilmu secara seimbang.
Perlu diberi catatan di sini bahwa keimanan dan
ketakwaan manusia, sebagaimana yang ingin diwujudkan dalam pendidikan Islam
hendaknya tidak diukur atau dilihat secara sempit. Keimanan dan ketakwaan
seseorang tidak dapat diukur hanya pada hal-hal yang sifatnya legal formal,
seperti pelaksanaan ibadah salat, puasa dan haji atau rajin menghadiri majelis
taklim atau kumpulan zikir dan seterusnya. Demikian pula tidak bisa diukur dari
hal-hal yang bersifat sangat simbolistik, seperti panjangnya jenggot laki-laki,
panjangnya jilbab perempuan atau seringnya menggunakan label-label syariah dan
sebagainya.
Hakikinya,
indikasi utama keimanan dan ketakwaan seseorang tercermin pada seberapa besar
empati dan komitmen seseorang pada upaya-upaya transformasi dan humanisasi di
dalam masyarakatnya atau dalam term Al-Qur’an disebut sebagai amar
ma’ruf nahy munkar. Upaya-upaya tersebut mencakup semua upaya
mentransformasikan diri, keluarga dan masyarakat ke arah yang lebih baik,
lebih positif dan lebih konstruktif. Misalnya, membangun lingkungan yang
bersih, baik secara material maupun moral; menolong fakir-miskin; membantu
anak-anak dan perempuan terlantar serta kelompok rentan lainnya; mengentaskan
kemiskinan; menghindari perilaku korupsi; menjauh dari semua tindakan
diskriminasi, eksploitasi dan kekerasan dengan dalih apa pun, termasuk
kekerasan yang menggunakan alasan agama.
Upaya-upaya
humanisasi juga mencakup aspek yang sangat luas seperti upaya edukasi,
publikasi dan advokasi yang kesemuanya dilakukan untuk mengubah seseorang atau
masyarakat menjadi lebih manusiawi. Termasuk juga di dalamnya upaya-upaya
merawat lingkungan semesta agar planet ini tetap nyaman dihuni oleh generasi
mendatang.
Agar
pendidikan Islam dapat mewujudkan manusia yang beriman dan bertakwa dengan
sejumlah indikasi yang disebutkan tadi, pendidikan hendaknya menyentuh dan
mengaktualkan ketiga aspek penting dalam diri manusia secara bersamaan, yakni
aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Inilah problemnya, karena dalam
realitas sosial di masyarakat pendidikan Islam pada umumnya baru menyentuh
aspek kognitif, dan itu pun belum optimal.
Akibat
dari pendidikan yang hanya mementingkan sisi kognitif belaka adalah seperti
yang dewasa ini kita saksikan. Pendidikan Islam pada umumnya hanya mewujudkan
manusia-manusia yang mengerti Islam, tetapi kurang mampu atau bahkan tidak
mampu menginternalisasikan atau menghayati makna hakiki ajaran Islam, apalagi
mengimplementasikan pengetahuan keislamannya itu ke dalam perilaku islami
sehari-hari.
Konsekuensi
logis dari pelaksanaan pendidikan Islam yang demikian adalah munculnya ribuan
sarjana Muslim tetapi belum memberikan kontribusi positif yang optimal bagi
bangunan peradaban Islam atau ketamaddunan Islam masa kini. Dengan ungkapan
lain, para sarjana Muslim tersebut belum sepenuhnya mampu memberikan solusi
yang signifikan terhadap berbagai problem sosial kontemporer yang dihadapi
masyarakat Muslim dewasa ini.
Karena
itu, ke depan pendidikan Islam harus mampu mengubah dan mengembangkan ketiga
potensi dasar manusia: pengetahuan, sikap dan perilaku ke arah lebih baik,
lebih positif, lebih arif dan lebih manusiawi.
Intinya,
pendidikan Islam harus mampu menajamkan pikiran, membuat seseorang menjadi
lebih kritis dan rasional serta berwawasan luas dan terbuka. Pendidikan Islam
harus mampu menghaluskan perasaan: mengubah sikap manusia ke arah lebih peka
dan peduli, lebih inklusif, lebih toleran, lebih pluralis, dan lebih humanis
serta lebih peduli pada kelestarian lingkungan dan alam semesta. Dan yang terakhir,
tapi tidak kurang pentingnya adalah pendidikan Islam harus mampu menumbuhkan
kearifan: mampu mengubah perilaku manusia ke arah lebih santun dan bermoral.
Ringkasnya, tujuan akhir pendidikan Islam adalah membentuk manusia
berbudi-pekerti luhur atau berakhlak mulia.
Pertanyaan
muncul, apa saja indikasi nyata dari berakhlak mulia itu? Paling tidak,
indikasinya dapat dilihat pada dua aspek. Pertama, sikap
senantiasa taat dan patuh kepada Allah swt. dengan melakukan semua
perintah dan menjauhi larangan-Nya. Kedua, memiliki kepekaan sosial
yang tinggi sehingga selalu tergugah dan terpanggil menyelesaikan berbagai
problem kemanusiaan yang terjadi di sekitarnya, menghormati sesama manusia
tanpa diskriminasi sedikit pun, serta peduli pada kelestarian lingkungan.
Dengan
ungkapan lain, tujuan pendidikan Islam adalah memanusiakan manusia; menjadikan
manusia lebih manusiawi; manusia yang bukan hanya memiliki kesalehan
individual, tetapi juga kesalehan sosial. Manusia yang meyakini keberadaan dan
keesaan Tuhan sekaligus memiliki empati mendalam terhadap sesama manusia,
bahkan sesama makhluk.
Empati
terhadap sesama manusia diwujudkan dalam bentuk aksi konkret pemihakan terhadap
kelompok masyarakat yang rentan, yakni kelompok manusia yang termarjinalkan (mustadh'afin),
seperti anak-anak yatim, anak-anak jalanan, anak-anak korban perang dan
konflik, fakir miskin, para penyandang cacat (disable people), perempuan
marjinal, buruh kasar, para pengungsi, dan orang-orang yang mengalami
kekerasan, diskriminasi dan eksploitasi. Mari wujudkan pendidikan Islam yang
menjamin terciptanya baldatun thayyibah wa rabbun ghafur.
3.
Sifat – sifat pendidikan islam
Bersifat Ke-Tauhid-an.
Seluruh ornamen-ornamen dalam pendidikan islam harus dosesuaikan dengan ajaran
agama islam. Mulai dari visi dan misi dari sekolahan itu, guru, kurikulum dan
lain sebagainya harus ditujukan semata-mata karena Allah SWT agar kita
senantiasa patuh, taat kepada-Nya.
b. Bersifat
fleksibel. Penjabaran dari ayat-ayat al-qur’an yang semakin berkembangnya para
ilmuan tafsir sehingga penginterpretasikan ayat-ayat al-qur’an ini dapat
disesuaikan dengan tuntutan zaman. Sehingga arti fleksibel dalam ranah
pendidikan ialah islam mampu menyesuaikan dengan kebutuhan para lembaga-lembaga
pendidikan islam.
c. Bersifat
seimbang. Maksudnya adalah dalam hal pendidikan islam tidak terlepas dari
ajaran ketauhid-an. Jadi keseimbangan dalam hail ini ialah, keseimbangan antara
individu dengan sosial, keseimbangan antara dunia dengan akhirat serta
keseimbangan antara jasmani dan rohaninya. Karea pada dasarnya dengan sifat
seimbang inilah mampu menciptakan suatu pendidikan yang adil tanpa membedakan
latar belakang dari orang tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar